Cerita Halimah, Bertahan di Tengah Hantaman Wabah Covid-19


Kisah  Perempuan buruh pengutip Kopi, tetap bertahan ditengah kondisi sulit wabah Covid-19. Hidup mesti terus berjalan, asap dapur harus tetap mengepul. Protokol kesehatan tetap dijalankan.  

KABAR ACEH, TAKENGON: Tak ada yang menginginkan bencana. Namun, ia kerap datang tanpa diundang dan tak bisa dipredeksi. Ketika bencana menerjang mau tak mau harus dihadapi dan kita mesti tetap bertahan. Demikianlah yang kini dihadapi masyarakat global tak terkecuali Negara ini, hantaman Pandemi Covid-19 telah meluluhlantakan ekonomi masyarakat.

 Ditengah situasi ini harga-harga komoditi andalan masyarakat terpuruk, membuat harga perekonomian merosot. Para buruh paling terdampak. Gajian harian yang tak seberapa, semakin tak mencukupi ketika tersendak-sendaknya roda perekonomian akibat Covid-19.

 "Sepanjang hidup saya, inilah kondisi tersulit. Harus kerja keras dan pandai-pandai memutar otak untuk tetap bisa makan dan mencukupi kebutuhan sehari-hari"ungkap Halimah. perempuan buruh pengutip kopi di Kabupaten Bener Meriah. Di dataran Tinggi Gayo, kebanyakan  para buruh pengutip kopi ketika panen raya, adalah perempuan.  

 Ibu dua anak ini menjadi tulang punggung keluarganya sudah hampir 3.5 tahun setelah kepergian sang suami tercintanya menghadap sang Ilahi. Biasanya, meskipun masih jauh dari kata layak, ia masih bisa mencukupi kebutuhan sehari-hari dengan menjadi buruh pengutip kopi.  ia sebenarnya juga memiliki kebun kopi seluas dua rante, warisan sang suami, namun tetap saja tak mencukupi.  Harga kopi saat tengah terpuruk. para pengepul hanya berani membeli kopi jika satu kaleng Rp. 60.000,- ribu saja, biasanya satu kaleng  dihargai Rp.130.000,- ribu.

Perempuan tangguh berusia 40 tahun ini mengaku harus bisa memanajemen keuangan rumah tangganya, akibat sulitnya mendapatkan pundi-pundi rupiah di massa pandemi covid-19 ini. Meski panen raya kopi saat ini, namun ia mengaku tidak cukup mendapatkan uang.

 Situasi  memang tak normal. Pembatasan-pembatasan sosial dilakukan, roda perekonomian menjadi tersendak-sendak. Paling berdampak di sektor eksport, akibat covid-19, banyak Negara-negara yang membatasi eksport, distribusi menjadi terhenti dan kemudian berpengaruh kepada nilai jual dan harga produk-produk masyarakat. Industri-industri tak berproduksi. Tak terhitung lagi perusahaan-perusahaan yang hancur lebur terdampak wabah Covid-19. PHK terjadi dimana-mana.  Rakyat kecil kian "terhimpit" ekonomi mereka semakin sulit, tertatih-tatih di tengah-tengah wabah pandemik.

 Tak Menyerah Ditengah Situasi Sulit

Tak ada kata menyerah, sesulit apapun keadaan kehidupan harus terus berjalan. Halimah menyadari hal ini, demi anak-anaknya, Halimah terus memutar otak dan memeras keringat. Diusianya tak tak muda lagi dengan dua anak, satu masih SMP dan satunya lagi masih SD, Halimah mencari usaha sampingan, diantaranya menanam sayur-sayuran dengan masa panen cepat di lahan-lahan milik warga yang berbaik hati meminjamkan lahannya untuk ia tanami.

"Meski harganya juga merosot, tapi setidaknya bisa menambah penghasilan, kalaupun tidak laku bisa dikomsumsi sendiri, hitung-hitung sebagai ketahanan pangan keluarga"kata Halimah, Halimah mengaku menanam berbagai jenis sawi-sawian dan kacang-kacangan.

Masih belum cukup, Halimah juga membuat usaha sampingan dengan membuat kue pada malam hari dan menitipkannya ke kios dan warung disekitar tempat tinggalnya. "Meskipun penghasilannya tak seberapa, tapi jadilah untuk tambah-tambah"ungkapnya.

Saat ini kopi Gayo tengah panen raya. Tiap hari Halimah menjadi buruh pengutip kopi, dari satu kebun ke kebun kopi milik warga lainnya. Tiap satu kaleng kopi ukuran 10 bambu kopi, ia mendapatkan upah Rp. 20.000 - ribu. Seringkali ia mengutip kopi di kebun warga yang jauh dari tempat tinggalnya dan berada di lereng-lereng  gunung-gunung, terjal dan kalau tak hati-hati bisa terpeleset. Kejadian terjatuh saat mengutip kopi di kebun kopi yang curam adalah hal biasa yang ia hadapi.

Halimah mengaku penerima BLT dari pemerintah " Sangat terbantu dengan adanya BLT, tapi kalau ditanya apakah cukup, ya masih belum cukup, kebutuhan terus meningkat" kata Halimah. Saat beraktifitas, Halimah mengaku sebenarnya ia khawatir terpapar Covid-19. Tapi ketakutan saja tidak cukup untuk bertahan. Asap dapur harus tetap mengepul anak-anaknya harus tetap makan.  "Jalan satu-satunya ya, dengan menerapkan protokol kesehatan, memakai masker saat berjualan, menjaga jarak dan rajin cuci tangan" ujarnya.

Kepada keluarganya, ia selalu menekankan untuk tetap menerapkan protokol kesehatan, sebagai bentuk kehati-hatian dan kewaspadaaan. Ia mengatakan banyak yang tak percaya Covid itu ada, dan menganggap remeh.

" Saya juga sempat beranggapan seperti itu, tapi setelah saya pikir-pikir kalau memang tidak ada apakah bisa menyebabkan dampaknya seperti ini, lalu kalau kita benar-benar terpapar dan positif Covid bagaiamana?  jadi menurut saya lebih baik hati-hati dan waspada dari pada menyesal kemudian hari"kata Halimah.

Dirinya merasa bersyukur, diberikan kesehatan yang baik dan dapat beraktifitas seperti biasa "Untuk menjaga kesehatan, saya biasa meminum jamu atau mengkomsumsi makanan alami yang memang banyak di kampung yang saya dengar-dengar berkhasiat untuk kesehatan. Bertawakal kepada Tuhan, dan selalu berdoa semoga dihindarkan dari segala penyakit dan marabahaya" ungkapnya.

Ia berharap Wabah Covid-19 segera berakhir dan keadaan menjadi lebih baik. Agar hari esok lebih cerah, terutama perempuan-perempuan yang bernasib sama seperti dirinya. (Arsadi Laksamana)

No comments