Mendedikasi hidup dalam pengembangan budidaya Kopi agar produksi lebih maksimal. Sang Mestro pertanian kopi dari Aceh Tengah.
KABAR ACEH, TAKENGON: Sepintas, tak ada yang istimewa pada Zaini. laki-laki berusia 54 tahun ini tampak biasa saja, layaknya sosok petani yang biasa beraktivitas di Kebun Kopi di Gayo.
Badan tegap, berkulit agak gelap dengan otot-otot yang nampak menonjol, jauh dari gambaran intelektual berpendidikan tinggi dan deretan gelar akademik dibelakang nama. Tapi seperti kata orang bijak penampilan seringkali menipu, siapa sangka pria ini pernah diundang ke Istana Negara dan bertemu dengan Presiden Jokowi.
Siapakah Zaini? berkiprah sejak 2001, ia adalah lelaki di kebun kopi Gayo, pendiri Klinik Kopi Gayo, tempat belajar bagi siapa saja yang ingin belajar tentang kopi Gayo. Bak lembaga akademik formal, banyak yang telah menempuh "pendidikan" di "sekolah"nya itu. Bedanya, jika di lembaga pendidikan formal kita harus mengeluarkan biaya yang tak murah, namun di Klinik Kopi Gayo semua gratis dan tak ada titel atau ijazah.
"Kita kekurangan SMD untuk pengembangan kopi Gayo agar lebih produktif, hasil panen yang lebih banyak meski lahan sedikit. Kualitas yang terjaga dan nilai juga yang tinggi" ujarnya, terdengar sederhana tapi bukan perkara gampang mewujudnya.
Seistimewa apakah yang dilakukan Zaini? Apa keberhasilannya?
" Pola yang saya kembangkan, dengan luas lahan empat rante, atau 400 batang kopi bisa, mampu menghasilkan 1.500 kilogram Green Bean atau 1 setengah ton, dengan kualitas eksport" katanya bangga.
Bandingkan dengan, cara konvensional pertanian kopi di Gayo, umumnya, dalam satu Hektar kebun kopi rata-rata hanya mampu menghasilkan 700 Kilogram Green Bean, bahkan tidak mencapai 1 ton.
"Polanya organik, dengan perawatan intensif" jelasnya.
Ia mengisahkan, saat memulai kiprahnya, kemudian konflik Aceh Terjadi, lahan-lahan perkebunan kopi terbengkalai. Gairah untuk budidaya kopi sejak menurun, 2007 ia bersama membangkitkan semangat para petani kopi lagi.
Saat itu dibuat sebuah sistem lomba usaha tani perkebunan rakyat Aceh Tengah yang dilaksanakan di desa genting gerbang, pada Bupati sebelumnya, selanjutnya diminta ditindaklanjuti pelatihan-pelatihan kepada para petani kopi.
"Namun kesempatan pemerintah waktu itu, mungkin belum bisa mencapai harapan kami sebagai petani, seharusnya hal ini cukup baik hasil kerja-kerja yang dilakukan sebelum"katanya.
Zaini, sudah begitu paham seluk-beluk kopi Gayo, bahkan di 2016 pernah dikontrak oleh oleh perusahaan dan pemerintah daerah di sejumlah kabupaten di Sumatera Utara. Menjadi pembina sekaligus motivator bagi petani kopi disana. Menjadi konsultan kopi diwilayah terdampak erupsi gunung Sinabung dan telah meningkatkan penghasilan mereka.
Ia telah dikenal di seantero Sumatera Utara mulai dari Tanah kario, Simalungun, Tapanuli Utara, Mandailing Natal sampai Tapanuli Selatan.
Apa yang ungkapkan tadi, bukan tanpa bukti. Ia telah mempraktekkannya di kebun kopinya di Atu Lintang. Keberhasilannya inilah menjadi dasar ia kemudian diminta untuk membina sekaligus motivasi ke petani kopi Gayo di daerahnya.
Hal ini juga membawanya aktif di Pusat Pelatihan Pertanian Perdesaan Swadaya (P4S) Maju Bersama untuk wadah petani untuk belajar tentang budidaya kopi dan bagaimana meningkatkan hasil panen. Hasil jerih payahnya ini akhirnya membawanya ke Istana Negara pada tahun 2015 yang lalu sebagai Juara Kedua P4S tingkat Nasional.
Kiprahnya itu, juga kemudian dilirik oleh NGO Conservation Internasional Indonesia (CII) untuk bergabung dalam pembinaan dan rehabilitasi kopi rakyat di berbagai daerah.
Kurang lebih empat tahun di Sumatera Utara, kini Zaini lebih memilih mengaplikasikan "ilmu" di tempat kelahirannya, Gayo. Melalui Klinik Kopi Gayo, yang ia dirikan pada akhir tahun 2018 di Desa Gele Lah, Belang Gele, Aceh Tengah. Berbagi pengetahuan kepada petani kopi kopi dengan pola yang ia terapkan dan mendapatkan hasil maksimal.
"Mengapa hasil panen petani kopi di Gayo, belum maskimal, karena kurang mau mempelajari berbagai aspek tentang kopi, itulah sebabnya, produktivitas rata-rata kopi Gayo masih tergolong rendah"ungkap Zaini.
Ia mengajak para petani untuk lebih aktif menggali wawasan dan referensi tentang sifat tanaman kopi terutama kopi Gayo. Agar, didapatkan bisa dibudidayakan dengan tepat dan hasil sesuai yang diharapkan petani.
Artinya bukan soal berapa luas lahan yang dimiliki petani agar hasil panen melimpah. Tapi bagaimana pola budidaya yang tepat, namun panen maksimal. Hasil panen 4 Rante sama dengan hasil panen dua hektar.
"Jika ingin membuat perubahan, harus mampu membuat terobosan, jangan menunggu uluran tangan orang, kalau hanya berharap bantuan, sampai kapanpun kita tidak bakalan maju" terang Zaini.
Soal harapan, Zaini berharap sebagai, wilayah terluas penghasil kopi Arabika se-Asia Pasifik di Gayo ada pusat penelitian kopi.
Ia mempunyai kebun percontohan sebagai tempat praktek bagi yang ingin belajar. Lokasinya mudah dijangkau, karena hanya butuh waktu sekitar 10 menit dari pusat Kota Takengon, di Belang Gele.
Saat ini, tidak hanya petani kopi di wilayah Gayo yang belajar di kiniknya, kalangan mahasiswa daari berbagai daerah, pegiat lingkungan, peneliti hingga pejabat dalam dan luar daerah. Maklum saja, Klinik ini pertama kali dibuat ada di Gayo, yang disebut-sebut penghasil terbesar kopi Arabika dengan cita rasa khas dan di akui dunia, bahkan oleh pemerintah setempat sekalipun.
Selain teori, bagi yang belajar di Klinik Kopi Gayo, juga ada sesi praktek di kebun percontohan yang tak jauh dari Klinik. Dua tahun Klinik Kopi Gayo berdiri, seiring waktu bahkan telah menjalin kerjasama dengan Fakultas Pertanian Universitas Teuku Umar, Meulaboh dan Prodi Kopi Fakultas Pertanian Universitas Gajah Putih Takengon. Juga, bersama Polres 107 Aceh Tengah dalam program Polisi Bertani.
Bagaimanakah pola budidaya Kopi yang dikembang oleh Zaini?
"Banyak hal yang kita lakukan, yang intinya banyak diluar pemikiran petani dan tradisi yang selama ini dilakukan petani kopi Gayo pada umumnya"jawabnya.
Ia mencontohkan, seperti bagaimana cara memperbaiki buah atau bagaimana pemupukan sederhana dengan pupuk organik, cara perawatan kopi di usia empat tahun dan lainnya.
Bagi masyarakat yang ingin mencontoh pola budidaya yang ia terapkan, ia mempersilahkan belajar ditempatnya, yang ia sebut sebagaimana "Kampus" pengembangan teknis kopi.
Ditanya dukungan pemerintah bagaimana atas apa yang ia lakukan? Zaini terdiam sejenak kemudian menghela napas panjang.
Dengan penuh makna, ia mengatakan sejak 2007 hingga saat ini belum ada perhatian khusus untuk kelembagaannya. Zaini menyebutkan sebenarnya ia pernah mencoba berupaya meminta tentang peningkatan fasilitas yang dimiliki.
"Konsepnya sederhana, jika ada yang menginap mahasiswa kita, atau tamu-tamu kita dari luar yang ingin belajar tentang kopi ada pasilitas penginapan. Bisa menikmati udara segar, diantara suasana perkebunan kopi ditempat kami, namun hingga saat ini hal tersebut belum tercapai"ungkapnya.
Banyak hal yang bisa bisa dipelajari dari Zaini, niat mulianya layak diapresiasi. Setidaknya, lelaki di kebun kopi ini telah memahami, jika dikelola dan dikembangkan dengan baik, di tanah Gayo, kopi adalah potensi, emas hitam yang tumbuh dari buminya, yang telah menjadi tumpuan harapan sebagian besar masyarakatnya. (Arsadi Laksamana)